TRIBUNNEWS.COM,  TEHERAN – Pemerintah Iran memberlakukan lockdown atau penguncian di kota-kota besar karena mengkhawatirkan penyebaran virus Corona Delta yang sangat menular sehingga memicu kekhawatiran akan gelombang dahsyat lainnya di negara itu.

Setelah lebih dari setahun berjuang melawan wabah virus terburuk di Timur Tengah.

Iran memerintahkan penutupan bisnis yang tidak penting di 275 kota, termasuk ibu kota Teheran.

Penutupan semua taman umum, restoran, toko makanan penutup, salon kecantikan, mal, dan toko buku berlaku untuk zona “merah” dan “oranye” negara itu, atau kotamadya yang dinilai memiliki risiko tinggi Covid-19.

Pemerintah mengatakan pihaknya juga memberlakukan larangan perjalanan antar kota dengan tingkat infeksi tinggi.

Baca juga: Dampingi Beben Jazz Sakit Hingga Meninggal, Inna Kamarie: Dia Selalu Hidup di Hati dan Pikiran Saya

Pembatasan baru Iran dirancang untuk memperlambat penyebaran varian delta yang sangat menular yang pertama kali terdeteksi di India.

Presiden Hassan Rouhani pada Sabtu (3/7/2021) memperingatkan potensi gelombang kelima infeksi virus Corona di negara itu.

Laporan kasus baru terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, hampir dua kali lipat dari pertengahan Juni hingga awal Juli 2021.

Negara ini telah melaporkan total 3,2 juta infeksi dan 84.627 kematian, jumlah korban tertinggi di wilayah tersebut.

Baca juga: Cegah Permainkan Harga Obat di Masa Pandemi, Pemerintah Tetapkan Eceran Tertinggi

Lonjakan itu terjadi ketika peluncuran vaksin Iran tertinggal, dengan kurang dari 2 persen dari populasi 84 juta yang divaksinasi penuh, menurut publikasi ilmiah online Our World in Data.